Mbah Surip meninggal dunia

Tadi siang setelah meeting dan makan siang, saya mampir ke teman-teman yang sedang makan siang di warung langganan kami. Sambil ngobrol dan menghisap rokok kesayangan, mas Gatot boss-nya tetestinta.com nyeletuk, eh si mbah Surip meninggal…!
Innalillahi wa innailaihi roji’un.. satu lagi fenomena Indonesia, tiada. Saya bukan fans mbah Surip. Saya juga kurang suka dengan lagu-lagunya yang jenaka. Saya hanya tertarik dengan kisah hidupnya dan penampilannya yang apa adanya.

Nama asli mbah Surip adalah Urip Ahmad Aryanto, lahir di Mojokerto, 5 Mei 1949. Lulusan S2 dari salah satu Perguruan Tinggi di Gresik. Pernah berkeliling dunia sebagai karyawan pengeboran minyak, emas dan intan. Setelah kembali ke Indonesia, mbah Surip berkelana (seperti lagu bang Haji..) di Jakarta. Mengembara dari satu komunitas seni satu, ke komunitas seni lainnya. Bahkan menurut berita di salah satu TV swasta, dia pernah menjadi pengamen di daerah Blok M.

Beberapa bulan terakhir ini, dengan rambut di dread-lock (gimbal) dan penampilan rasta ala Bob Marley, mbah Surip menyita perhatian masyarakat dengan lagunya Tak Gendong. Anak-anak tetangga saya yang masih kecil-kecil, selalu menyanyi : tak gendong kemana-mana… Konon, dari lagu Tak Gendong yang dipakai sebagai nada sambung pribadi HP (handphone), mbah Surip menerima  4 milliar lebih. Tapi itu tidak merubah penampilan si mbah. Kecuali, si mbah menjadi orang sibuk dengan undangan menjadi bintang tamu dan tampil dimana-mana. Di hari tuanya, mbah Surip menikmati kekayaan dan kejayaan.
Ini mengingatkan saya kepada pak Bendot. Pelawak tua jebolan Srimulat. Di Srimulat dulu, pak Bendot selalu menjadi batur (bahasa Jawa) alias pembantu. Yang selalu menjadi obyek penderita dalam lakon-lakonnya di Srimulat. “Dianiaya” lawan-lawan mainnya. Saat itu, pak Bendot hanyalah Bendot anggota Srimulat. Tidak terlalu nge-top. Tapi dia menjadi sangat terkenal setelah ikut membintangi sinetron Si Doel Anak Sekolahan-nya Rano Karno. Dia juga menjadi bintang iklan di beberapa iklan pemerintah. Sama seperti mbah Surip, pak Bendot jaya dan kaya di hari tuanya. Sama-sama tetap bersahaja walaupun terkenal. Kalau mbah Surip terkenal dengan jargon I love you, full!, dulu pak Bendot terkenal dengan jargon ayam sori (plesetan dari I am sorry..)

Hidup, mati, rezeki dan jodoh Di Tangan Allah. Allah melimpahkan rezeki ke Mbah Surip dan pak Bendot di hari tuanya. Plus bonus kepopuleran, yang mungkin mereka berdua tidak pernah bayangkan. Tapi keduanya fokus dan tekun pada apa yang mereka lakukan.
Allah juga menunjukkan kalau umur, adalah rahasia-Nya. Mbah Surip meninggal di puncak kepopulerannya. Kalau dulu mbah Surip selalu menyanyi : tak gendong kemana-mana… tak gendong kemana-mana, sekarang mbah Surip yang akan “digendong” oleh orang-orang yang akan mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Kalau dulu mbah Surip tidak punya rumah di Jakarta, sekarang mbah Surip akan tinggal di “rumah” yang sebenarnya…..

Selamat jalan….

Related posts:

  1. Kode telpon negara di dunia, kode ISO, luas negara
  2. Facebook
  3. Google Search menggunakan OnlyJust.net
  4. Luna Maya vs wartawan infotainmen
  5. Unblock Facebook v.2
  6. Cara mempercepat browsing Firefox
  7. Akhirnya jadi pindahan…
  8. Ayo dukung “EARTH HOUR 2009″ !
  9. Unblock Facebook
  10. Domain name check

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
CommentLuv Enabled